Label

marque

Sudahkah Anda membaca Hari ini?

head

Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Keluarga Sumba “STPMD” Yogyakarta

Keluarga Sumba STPMD Yogyakarta merupakan komunitas mahasiswa Sumba yang kuliah di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) Yogyakarta. Keluarga Sumba STPMD Yogyakarta terbentuk pada tanggal 7 Oktober 2011. Anggota awal sebanyak 46 orang. Komunitas ini terbentuk dari kesadaran bersama (Mahasiswa Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya) bahwa “Kami berasal dari etnis yang sama, yakni Etnis Sumba”.

Tujuan dibentuknya komunitas ini : pertama, untuk mempersatukan mahasiswa asal Sumba yang kuliah di STPMD Yogyakarta. Kedua, membangkitkan saling kepedulian diantara anggota Keluarga Sumba. Ketiga, mendiskusikan setiap dinamika yang ada dan terjadi di Sumba. Dan keempat, sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan melalui diskusi terkait materi perkuliahan.

Sebagai komunitas yang berbasis etnisitas, Keluarga Sumba STPMD Yogyakarta memiliki asas kekeluargaan. Artinya komunitas ini berdiri diatas pondasi kekeluargaan. Dengan demikian, Keluarga Sumba STPMD Yogyakarta tidak memiliki struktur organisasi dan kepengurusan yang hirarkis, melainkan hanya bersifat koordinatif. Dalam hal ini, menunjuk tiga koordinator yang bertugas menginformasikan setiap jadwal pertemuan. Pertemuan rutin diselenggarakan per dua minggu, sedangkan agenda lainnya disesuaikan dengan situasi dan moment yang terjadi.

Kegitan-kegiatan yang telah diselenggarakan Keluarga Sumba STPMD Yogyakarta, diantaranya; melakukan acara Malam Keakraban Bersama (MAKRAB). Makrab dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2011, bertempat di Pantai Depok Yogyakarta. Dan terakhir menyelenggarakan acara tahun baru bersama pada tanggal 6 januari 2012, bertempat di lingkungan kampus STPMD Yogyakarta.

Demikian informasi singkat mengenai keberadaan dan aktivitas mahasiswa Sumba di STPMD Yogyakarta. Semoga menjadi inspirasi kerjasama yang baik antara masyarakat di Sumba. Komunitas ini juga terbuka bagi mahasiswa Sumba dari kampus lain yang ingin bergabung. Salam Persaudaraan. (Titus-pen)
READ MORE - Keluarga Sumba “STPMD” Yogyakarta

Relevansi organisasi Kemahasiswaan

Oleh : Titus Umbu Jr


Telah menjadi berita rutinitas yang menghiasi setiap penerbitan media LPM Teropong mengenai “mati surinya” beberapa organisasi. Salah satu berita yang khusus mengulas merosotnya peminat terhadap organisasi mahasiswa adalah majalah edisi khusus diesnatalis / Th. III / Desember / 2005, tentang organisasi mahasiswa yang banyak tapi tak semarak.

Gregorius sahdan, dosen prodi IP kala itu mengungkapkan, organisasi mahasiswa di APMD sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya, apalagi organisasi ekstra kampus, seperti HMI, FMN,PM-KRI sudah mempunyai ruang gerak dikampus. Namun berkembangnya oraganisasi intra justru menimbulkan kesenjangan, karena organisasi eksternal selalu tampil dengan ide-ide kreatif sedangkan organisasi internal kekurangan stok.

Menurut Goris, sapaan akrabnya, apa yang terjadi saat ini adalah kebalikan dari situasi pada 1996-1998. Saat itu organisasi internal paling memegang peranan dari segi ketangkasan menganalisis masalah-masalah sosial yang terjadi. Kurang kreatifnya organisasi internal saat ini sehingga mengakibatkan menurunnya peminat terhadap organisasi mahasiswa. Selain itu “ekspansi” yang dilakukan organisasi eksternal dalam organisasi internal juga sangat mempengaruhi.

Namun, meskipun telah berkali-kali Teropong memuat tentang bertita “mandeknya” beberapa organisasi. Itupun tidak mengubah sedikitpun keadaan organisasi mahasiswa di APMD, kecuali malah bosan melihat keadaan yang memperihatinkan dalam organisasi yang kian hari mengalami degradasi.

Dengan mempertimbangkan kenyataan yang mengancam eksistensi organisasi mahasiswa intern kampus dan tantangan-tantangan yang dihadapi saat ini, sangat sulit untuk mengatakan bahwa organisasi mahasiswa akan bertahan dalam gelombang perubahan, tanpa adanya suatu terobosan baru yang dapat menangkis tantangan yang bakalan mengancam. Lalu langkah apa yang akan dilakukan untuk mengantisipasi tenggelamnya organisasi intern yang seakan termakan zaman?

Menurut Triyanto, dosen IP, penurunan minat mahasiswa pada organisasi mahasiswa intern kampus saat ini sangat drastis. Terbukti dengan terlihatnya beberapa organisasi yang tak memiliki pengurus, sehingga berakibat pada menurunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Selain itu, organisasi yang ada juga kurang produktif sehingga mengalami kemandekan.

Triyanto yang juga direktur pascasarjana ini menambahkan, menurunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi disebabkan ketidak jelasan pengurus organisasi, dan ketidak pahaman pengurus untuk mengolah kegiatan organisasi. Yang lebih berpengaruh menurutnya, disebabkan situasi sosial yang terjadi saat ini, dimana mahasiswa lebih tertarik pada organisasi ekstern kampus yang notabene memiliki berbagai kegiatan, sedangkan organisasi intern tidak memiliki kegiatan, sehingga mahasiswa kurang nyaman dikampus dan memilih bergabung di organisasi luar kampus. Situasi seperti ini tidak hanya dialami APMD, tetapi juga dialami kampus lain. Lanjutnya.

Sekedar flashback dosen yang juga pernah menjabat PK III ini menceritakan, bahwa selama Ia menjabat, organisasi mahasiswa tak separah sekarang karena beberapa organisasi melakukan berbagai kegiatan, bahkan ada yang berprestasi. Sebagai contoh : “dimoment puasa seperti sekarang ini UKMI sering melakukan buka puasa bersama, bahkan MAPALA pernah ada anggotanya yang berprestasi dalam lomba Climbing antara perguruan tinggi swasta (PTS) meskipun hanya dari peserta 3 PTS”. ungkapnya

Ia melanjutkan, bahwa kehadiran organisasi mahasiswa dikampus sangat dibutuhkan, karena sebagai pembentuk kepribadian dan pengembangan pengetahuan. Juga merupakan medium untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan. Namun menurut Bapak berusia 54 tahun ini, organisasi yang saat ini mengalami kemandekan harus diganti dengan cara membuat organisasi baru yang lebih menarik untuk dikembangkan.

Lebih jauh Ia mengatakan, Untuk mengatasi penurunan yang terus terjadi ini, dibutuhkan kerjasama yang baik antara pengurus organisasi dan lembaga (PK III) dalam mendorong mahasiwa untuk berpartisipasi, caranya dengan melakukan berbagai komunikasi dengan pengurus organisasi tentang kesulitan-kesulitan yang dirasakan dan hambatan-hambatan pengurus dalam mengelolah organisasi.

Hal yang sama, juga dungkapkan Habib Mushin S.Sos, dosen ilmu komunikasi ini mengungkapkan bahwa saat ini geliat organisasi mahasiswa sangat menurun, hal ini terlihat dari berbagai organisasi yang tinggal hanya sekretariatnya, tidak memiliki kegiatan bahkan pengurusnya sajapun tidak ada.

Menurut bapak berusia 38 tahun ini, menurunya minat mahasiswa pada organisasi disebabkan kurangnya motivasi, baik itu dari lembaga sebagai motivator dan mahasiswa itu sendiri yang dimotivasi harus memotivasi dirinya untuk berorganisasi, sebab persoalan organisasi bukanlah persoalan satu pihak (lembaga-Red), namun juga merupakan kepentingan mahasiswa itu sendiri untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Jika, Triyanto mengatakan bahwa salah satu yang menjadi penyebab menurunya minat mahasiswa pada organisasi intern dikarenakan persoalan sosial yang berkembang saat ini dan maraknya organisasi ekstern yang lebih kreatif. Hal berbeda diungkapkan Habib, Ia mengatakan bahwa, keadaan sosial yang saat ini makin kompleks dan maraknya organisasi ekstern justru menjadi motivasi bagi organisasi intern untuk menunjukkan eksistensinya dengan cara melakukan berbagai kegiatan yang dapat menarik minat mahasiswa. Suatu organisasi dikatakan eksis bukan dilihat dari banyaknya anggota yang berada didalamnya, namun lebih dari pada itu adalah kegiatan yang dilakukannya, Sehingga dengan beranggotakan empat sampai lima orang sajapun itu sudah cukup. Tambahnya.

Habib yang juga pernah menjabat sebagai PK III ini, mengungkapkan bahwa penurunan minat mahasiswa pada organisasi intern juga terjadi pada masa jabatannya, namun tak separah sekarang yang hanya tinggal sekretariatnya, sebab saat itu sering diadakan musyawarah kerja bersama (MUSKER), tetapi akhir-akhir ini penurunannya sangat drastis. Ungkapnya.

Kehadiran organisasi mahasiswa intern sangat dibutuhkan, karena merupakan wadah yang dapat digunakan mahasiswa untuk mengadakan diskusi, dan melalui organisasi itu sendiri mahasiswa dapat meningkatkan kapasitas, serta dapat memperoleh pengetahuan akan informasi yang berkembang. Hal-hal seperti inilah yang perlu dimotivasi untuk dikembangkan. Lanjutnya.

Solusi yang ditawarkan Habib yang juga ketua prodi ilmu komunikasi ini, bahwa setiap elemen harus bekerjasama dan saling mendukung untuk membangkitkan kembali semangat berorganisasi pada mahasiswa, baik lembaga maupun mahasiswa harus mengupayakan dan mencari solusi bersama demi mengatasi kemandekan. Dan yang lebih penting lagi menutup beberapa organisasi mahasiswa yang tidak memiliki kepengurusan dan anggota. Serta menggantikan dengan organisasi mahasiswa lain yang relevan dengan kondisi dan situasi saat ini. Sebab ketidak tertarikan mahasiswa pada organisasi juga kemungkinan dipengaruhi oleh keadaan organisasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa yang terkesan dipaksakan untuk diikuti. Tandasnya.

Menanggapi apa yang menjadi realitas organisasi mahasiswa saat ini, Sugianto selaku PK III mengungkapkan bahwa, jika geliat oraganisasi mahasiswa saat ini dikatakan menurun itu tidak benar, sebab beberapa tahun silam geliat organisasi terlihat marak, itu dikarenakan banyaknya mahasiswa saat itu dan organisasi mahasiswa lebih pada kegiatan fisik, seperti sepak bola dan lainnya. Tetapi saat ini jumlah mahasiswa menurun sehingga yang ikut organisasi pun terlihat sedikit dan kegiatan organisasi lebih cenderung pada kegiatan non fisik, seperti diskusi, seminar dan sebagainya. Sehingga sebagian orang menilai bahwa ini suatu penurunan, yang sesungguhnya bukanlah suatu penurunan, malahan secara persentasi, aktivis mahasiswa saat ini justru meningkat. Ujarnya.

“Saat ini juga masih banyak organisasi mahasiswa yang melakukan kegiatan, dan itu tidak diketahui oleh semua orang karena bukan berbentuk fisik seperti sepak bola yang diumumkan dan dapat dilihat banyak orang. Sekarang kan beda, dengan keadaan mahasiswa yang menurun bahkan anjlok juga disertai kecenderungan mahasiswa pada peningkatan kapasitas, sahingga berbagai kegiatan mahasiswa itu tidak terlihat. Ungkap dosen sosiatri ini.

Lebih jauh Ia menambahkan, bahwa mahasiswa ilmu pemerintahan mendominasi di APMD saat ini. “Tetapi ironisnya Ilmu Pemerintahan itu sangat mengenaskan, sebagai contoh ; persentasi peserta perpustakaan, terendah itu mahasiswa ilmu pemerintahan dibanding IS, IK, dan D III, bahkan organisasi HMJnya yang paling macet diantara yang lainnya, padahal mahasiswa IPlah yang secara SDM paling banyak”. Tandasnya

Hal ini terjadi karena yang mewadahi belum bertumbuh secara maksimal, Sugianto, mengibaratkan organisasi sebagai tempat wisata yang dikunjungi orang dan apabila tempat itu memberikan kenyamanan, maka pengunjung itu akan betah tinggal ditempat itu, namun jika tidak mampu memberikan kenyamanan, maka kencingpun mugkin tidak sempat. Seperti keadaan secretariat (HMJ IP) yang pintunya tak pernah dibuka serta tidak pernah menawarkan. Bagaimana pengurus bisa menawarkan sedangkan mungkin orientasi pengurus dan struktur diatasnya (yang enggan disebut Sugianto sebagai Pembina) tidak sama.

Situasi seperti inilah yang berdampak pada terpencarnya mahasiswa ilmu pemerintahan, karena mahasiswa yang berwawasan dan berkreativitas tidak mampu diwadahi sehingga bergabung dengan organisasi luar. Jadi ini merupakan tanggungjawab pengurus prodi yang merupakan roh dari HMJ untuk membangkitkan, sebab tugas PK III hanya sebatas memfasilitasi dan itu terjadi disetiap perguruan tinggi. Ungkapnya.

Ketika ditanya dampaknya bagi lembaga APMD jika tidak memiliki organisasi mahasiswa, Sugianto ketika ditemui diruanganya mengungkapkan bahwa ketidak beradaan organisasi dikampus tidak berdampak sedikitpun pada lembaga, sebab yang membutuhkan organisasi itu adalah mahasiswa, kecuali HMJ berdampak pada lembaga karena merupakan pelengkap untuk mengukur program studi, dari kegiatan dan pembelajarannya. Sebab yang dinilai kegiatan yang dilakukan program studi diluar perkuliahan. Sebagai contoh akredetasi dari DIKTI itu dilihat dari karya mahasiswa dibawah program studi. Ungkapnya.

Di ruang terpisah Sumarjono M.Si. ketika di tanya mengenai tanggapannya atas manurunnya minat mahasiswa pada organisasi, mengungkapkan bahwa sesuatu akan berjalan dengan baik jika ada proses evaluasi, komunikasi dan kemitraan untuk diketahui masalahnya dan dipecahkan bersama , jangan hanya dilihat dan dikritik terus padahal tidak pernah tahu akar permasalahannya. Sumarjono menambahkan, jika ingin maju harus berangkat dari evaluasi diri agar tahu kelemahan, kekuatan, peluang dan ancamannya (analisis WOT).

Titus Umbu Jr
Mahasiswa ilmu pemerintahan
STPMD"APMD" Yogyakarta
READ MORE - Relevansi organisasi Kemahasiswaan

Masalah Desa adalah Persoalan Data

Oleh : Titus Umbu Jr


Berbagai kebijakan yang dihasilkan pemerintah saat ini dirasakan sangat kurang menjangkau rakyat kecil yang berada di pedesaan. Pembangunan selalu dipusatkan ke kota-kota,.kemudian yang diharapkan akan membawa dampak bagi perkembangan pedesaan. Kenyataannya pembangunan tersebut semakin memperlebar jarak kesenjangan sosial, ekonomi, pendidikan antara masyarakat kota dan pedesaan. Situasi seperti itu semakin diperparah dengan semakin terserapnya berbagai sumber daya desa bagi perkembangan perkotaan. Kebijakan pemerintah yang bias kota ini, memaksa desa tumbuh dalam kondisi marjinal, terbelakang dan ketergantungan.


Drs. Sumarjono M.Si Ketua STPMD”APMD” Yogyakarta ;

STPMD “APMD” Yogyakarta sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang meletakkan desa sebagai sentral dan fokus kajiannya selama berpuluh-puluh tahun. Lalu bagaimana APMD sendiri memandang problematika desa dan sejauh mana kontribusinya untuk menelurkan ide serta gagasan-gagasan demi kemajuan desa sendiri. Berikut petikan wawancara dengan Sumarjono, Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta ketika ditemui reporter Teropong, Titus Umbu Jawa Ray dan Raysmon Bandong.

Sejak kapan APMD didirikan?

APMD didirikan pada tanggal 17 Nopember 1965. Awal didirikan dengan nama Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) kemudian sejak tahun 1989 di kembangkan dari Akademik menjadi Sekolah Tinggi berdasarkan SK dari dirjen DIKTI.

Bagaimana Kontribusi APMD terhadap Desa sendiri?

APMD selalu concern terhadap masalah pedesaan, sejak awal berdirinya, APMD bertekad menjadi pelopor pembangunan pedesaan.Hal itu yang membedakan kampus ini dengan sekolah tinggi sejenis.

Sejak awal berdirinya APMD sudah berkomitmen terhadap desa, Sudah sejauh mana Kontribusi Apmd terhadap Desa selama ini?

APMD sebagai sebuah perguruan tinggi, concern dan konsistensinya terletak pada input salah satunya adalah kurikulum. Kurikulum yang kita buat diusahakan agar senantiasa mahasiswa yang belajar di APMD memiliki kompetensi terhadap kajian tentang pedesaan. Tetapi yang mesti diingat tentunya antara prodi di STPMD memiliki fokus dan kompetensi yang berbeda-beda. Saat ini yang lebih fokus terhadap kajian pedesaan program studi Diploma III, karena di sana lebih awal memang difokuskan terhadap desa. Di prodi D III lebih banyak mengkaji tentang pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa. Sedangkan pada prodi sosiatri lebih relatif ke arah desa. Lain halnya dengan ilmu pemerintahan yang lebih fokus pada tata kelola pemerintahan lokal. Maka kurikulum, lebih diharapkan kajian tentang lokal, dan menitikberatkan hubungan propinsi, kabupaten, dan desa berbeda dengan perguruan tinggi lain lebih fokus ke ilmu politik dimana lebih ke kajian makro.

Tadi bapak berbicara mengenai Kontribusi APMD salah satunya terletak pada kurikulum, apakah hanya sebatas itu saja??
Berbicara mengenai Perguruan tinggi tugas utamanya berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat maka kontribusi langsung terhadap masyarakat lebih khusus ke desa,pertama diharapkan outputnya,yaitu mahasiswa mampu concern dan konsisten terhadap masalah-masalah lokal dan pedesaan sesuai visi-misi perguruan tinggi.Kedua hasil penelitian dan pengabdian pasti akan banyak memberikan kontribusi terhadap pedesaan sesuai karakteristik program studi masing-masing. Sebagai alumni misalnya kita harapkan cepat tanggap terhadap masalah desa. Hal ini yang membedakan dengan perguruan tinggi lain dalam memandang desa. Kita melihat dari tata kelola pemerintahan dari sudut ilmu pemerintahan yang metode pembelajaran seperti desentralisasi, otonomi dan demokratisasi misalnya bagaimana menyiapkan wilayah pedesaan agar mampu menjalankan kebijakan pusat baik desentralisasi fiskal, desentralisasi perencanaan pembangunan dan devolusi seperti cara memilih kepala desa. Saya pikir APMD sekarang kajian-kajian seperti itu akan semakin memperkuat kapasitas Desa, sehingga dosen dan mahasiswa diarahkan menuju kearah sana sehingga memperkuat komitmen terhadap desa menjadi spirit untuk membentuk desa yang maju dan sejahtera masyarakatnya.

Sudah sejauh mana penelitian yang dilakukan civitas akademika APMD
Dan apa karya yang sudah di hasilkan berkaitan dengan pembangunan desa?

Bentuk penelitian itu bisa diwujudkan melalui penelitian langsung kepada objek, baik masyarakat atau aktor pengelola lembaga desa, kedua melalui kajian literarur berupa output jurnal JISA, kebijakan STPMD”APMD”mengenai penelitian baik dosen atau mahasiswa, seluruh penelitian di simpan dan bisa di baca di perpustakaan.mengenai topik-topik penelitian yang jelas saya lupa tapi penelitian mahasiswa dan dosen selau diarahkan pada penelitian yang berhubungan dengan dinamika hubungan pemerintahan lokal, kabupaten kota, provinsi dan pedesaan.

APMD sudah sejak lama konsisten terhadap desa, apakah sejak berdirinya sampai sekarang, APMD sudah memiliki desa binaan?

Sejak tahun1984 saya sebagai dosen berada di sini, APMD itu memiliki desa binaan di Kabupaten Kulonprogo Kecamatan Temon, kemudian di Jawa Tengah, Kabupaten Magelang tepatnya di Kecamatan Blabak, Mungkit. Sekarang istilahnya menjadi mitra kerja, sekarang baru saja MOU(Memorandum Of Understanding) di Bantul yaitu desa Gilangharjo, tapi khusus untuk desa gilangharjo tidak hanya sebagai mitra kerja tapi di kembangkan sebagai laboratorium lapangan, STPMD yang selama ini lebih mengarah ke village khusus untuk gilangharjo kita lebih masuk ke tata kelola pemerintahan desa. Kedua ikut mengembangkan desa wisata berbasis budaya. Ketiga mengembangkan aspek wilayah desa dari segi ekonomi agrobisnis dalam menciptakan ketahanan pangan termasuk dalam agroteknologi, mengolah sampah agar dapat lebih dimanfaatkan, serta mengolah hasil pertanian agar menjadi alternatif pangan. Serta ikut memanfaatkan sampah ternak menjadi alternatif bahan bakar seperti biogas. Mahasiswa kedepanya tidak hanya paham akan pemerintahan akan tetapi paham mengenai tata kelola pedesaan. Hal ini dapat di wujudkan kedepanya dengan mengundang sosok pemberdayaan desa, mengadakan kerja sama dengan dengan LPM (lembaga pemberdayaan masyarakat) UGM khusunya fakultas –fakultas di UGM yang berhubungan dengan pedesaan seperti fakultas pertanian, perikanan, teknik industri. Kalau pun hal tersebut tidak dapat dilaksanakan,masih ada alternatif lain yaitu dengan pemanfaatan multimedia, seperti pemutaran film mengenai desa yang ,merupakan bagian dari proses mendorong mahasiswa agar memiliki kemauan untuk terlibat dalam kegiatan mengenai desa. Kita sendiri menyadari kenyatan mahasiswa APMD kalau kuliah sendiri belum tentu dapat menerima semua materi ada yang ngelamun, tidur dan lain-lain sehingga ruang-ruang seperti pemutaran film ini menjadi alternatif materi.

Tadi bapak katakan ada beberapa desa yang dijadikan mitra kerja, seperti yang di jawa tengah, apakah selama ini masih terus berjalan dan bentuk kerja samanya seperti apa?

Tidak, sekarang kerjasama dengan desa-desa yang dijadikan mitra kerja sudah tidak berjalan. Jadi waktu itu kita menempatkan mahasiswa untuk mengadakan penelitian terutama untuk membuat profil desa, karena waktu itu berhubung kurikulumnya mahasiswa D3 ada KKL (kuliah kerja lapangan) beberapa hari kita tempatkan di desa, kebetulan saat itu jumlah mahasswanya cukup banyak, jadi diadakan semacam sensus dengan cara setiap warga dikunjungi untuk di data tentang sosial, ekonomi, identifikasi masalah, inventarisasi masalah pembangunan yang ada di desa itu. Sehingga hasil penelitian itu bisa dijadikan sebuah buku, dan di desa itu memiliki monografi desa lengkap dengan profilnya, dan pemerintah desa dan masyarakat memiliki identifikasi-indentifikasi potensi maupun masalah yang dihadapi.

Selain sebagai ajang KKN, sudah sejauh mana bentuk kontribusi desa tersebut terhadap mahasiswa?

Di harapkan memang desa mitra kerja tersebut dapat dijadikan semacam studi lapangan bagi mahasiswa baik melaui PUSMADA, LMKOD, atau melaui praktikum di kurikulum, untuk saat ini yang kita kerjakan mendampingi penyususan renstra desa, selanjutnya dari renstra desa itu akan di hasilkan RKP (rencana kerja pembangunan) tahunan dalam jangka waktu 5 tahun. Diharapkan desa itu memiliki link- link dengan pihak luar dengan tidak hanya menggantungkan dana dari pemerintah.


Berdasarkan kenyataan yang berkembang, desa mitra kerja APMD, belum banyak di ketahui oleh mahasiswa sendiri. Bagaimana cara yang di lakukan oleh kampus sendiri dalam proses sosialisasi mengenai desa mitra kerja tersebut apalagi dalam menghadapi penerimaan mahasiswa baru?

Kalau saya hal tersebut dapat dilakukan oleh prodi dan dosen. Dosen melakukan penelitian terhadap masyarakat ke sana dengan melibatkan mahasiswa. Untuk menghadapi penerimaan mahasiswa baru diharapkan nantinya SIKAM (Sosialisasi Intern Kampus), akan diarahkan ke desa. Mahasiswa baru di bawa ke desa mitra kerja tersebut sehingga akan lebih mengenal desa.

APMD sebagai sekolah tinggi yang selau konsen terhadap desa, tentunya lebih mengetahui sebenarnya apa masalah yang dihadapi oleh desa?

Sejak di keluarkannya peraturan pemerintah mengenai desentralisasi dan demokratisasi, kenyataan masalah yang dihadapi oleh desa adalah mengenai data. Hampir semua desa-desa baik yang ada di DIY maupun di luar DIY mengalami masalah ini. kalau toh pun ada dari tahun ke tahun data itu di buat saat itu dan tidak pernah diperbaharui, dari hal tersebut maka akan berpengaruh pada kelemahan,merancang pembangunan di desa itu yang seharusnya berbasis pada masalah.kalau datanya saja tidak baik, maka data yang di hasilkan hanya berbasis pada keinginan. Sehingga menyebabkan rancangan yang dibuat bias pada fisik, selain itu kinerja pemerintahan desa masih konvensional lebih kepada pelayanan administratif, kemampuan merancang dan mengembangkan juga masih terbatas.

Melihat begitu banyak masalah yang di hadapi desa, Apa yang dilakukan APMD dalam menyingkapi masalah tersebut?

APMD membangun konsep pemberdayaan terhadap desa, kami juga berkomitmn melakukan penelitian dan pengabdian yang nantinya hasil penelitian itu di arahkan pada pemberdayaan masyarakat desa agar lebih mandiri. Kita juga mengadakan pelatihan-pelatihan pada kepala-kepala desa dalam merancang tata kelola pemerintahan desanya. Hal ini sangat membantu desa sendiri dalam mengatasi masalahnya agar tercipata pemerintahan lokal yang kuat dan berdaya saing.

Bagaimana menurut bapak, perkembangan minat mahasiswa terhadap desa?

Banyak mahasiswa yang kurang berminat lebih disebabkan Mahasiswa saat ini cenderung berpikir linear, bagaimana kuliah cepat dan cepat dapat kerja.selain itu juga banyak faktor yang memengaruhi diantaranya faktor eksternal adanya persaingan antar perguruan tinggi di daerah, regulasi penerimaan pegawai negeri, sedangkan faktor internal, yaitu mengenai tata kelola yang belum menarik, serta perguruan tinggi sendiri yang belum banyak dikenal.

Apa upaya APMD dalam menarik minat mahasiswa?

APMD selalu berusaha agar dapat menarik mahasiswa , diantaranya melalui promosi yang dilakukan oleh panitia penerimaan mahasiswa baru, akan tetapi masih belum maksimal karena terkendala masalah finanasial, yang kedua promosi, dapat melalui para alumni ataupun mahasiswa aktif sendiri diharapkan dapat menarik minat mahasiswa agar mendaftar di APMD, Kita juga berupaya mengadakan pelatihan-pelatihan pada pemerintah daerah yang diharapkan ke depan akan semakin membuka jaringan dan pengenalan APMD.

Seperti apa arah dan tujuan APMD ke depan?

APMD sebagai sekolah tinggi yang berkomitmen terhadap Desa,
Arah dan tujuan ke depannya akan mengembangkan Sistem Nasional Pendidikan sesuai PP No 15 tahun 2005.

Titus Umbu Jr
Mahasiswa ilmu pemerintahan
STPMD"APMD" Yogyakarta
READ MORE - Masalah Desa adalah Persoalan Data

Pembredelan PERSMA di STPMD yogyakarta

Oleh : Titus Umbu Jr


Tepatnya, jumat 09 oktober 2009 terjadi sebuah insiden memalukan dikalangan mahasiswa STPMD Yogyakarta. Kejadian itu berawal dari sikap arogansi panitia SIKam tahun 2009 yang melakukan aksi penarikan paksa koran mini dari mahasiswa baru. Bahkan melakukan perobekan serta penginjakan terhadap Koran kampus terbitan LPM Teropong. Adapun aksi perobekan tersebut, ditengarai adanya pemberitaan LPM Teropong edisi khusus SIKam (Teropong News edisi jumat 9 oktober 2009), yang dinilai tidak berimbang.

Sikap tidak terhormat yang ditunjukkan panitia SIKam, membangkitkan amarah segenap pengurus LPM Teropong. Merekapun mulai bereaksi dengan mengadakan penuntutan terhadap pelaku perobekan. Langkah pertama mengajukan surat ketidakpuasan terhadap panitia SIKam yang notabene adalah pengurus Dewan Mahasiswa (DEMA) STPMD. Namun surat tersebut ditanggapi negatif, alasannya masalah perobekan dilakukan karena ada penyebabnya.

Melihat kondisi yang kian tak menyenangkan, pengurus LPM Teropong melayangkan surat pengaduan terhadap Lembaga Kampus STPMD untuk ditindaklanjuti. Setelah menerima laporan dari LPM Teropong, sikap yang sama ditunjukkan Lembaga Kampus STPMD yang mengatakan “itu kan pasti ada yang melatarbelakangi, makanya kalau beritakan harus yang berimbang”, ujar PK II.

Kecamanpun ditujukan kepada LPM Teropong dan meminta klarifikasi atas pemberiataan yang dinilai pembohongan public. Tekanan semakin menyudutkan LPM Teropong. Lembaga Kampus, DEMA, Panitia SIKam dan mahasiswa baru, telah menilai LPM Teropong sebagai media pembohong.

Kondisi yang menyudutkan. Mengundang reaksi keras dari pengurus LPM Teropong. Tindakan itupun dikecam akan mengambil langkah hukum, dengan melibatkan seorang pengacara dari Jakarata. Sikap tegas yang diambil oleh LPM Teropong menimbulkan kekawatiran dari Lembaga Kampus STPMD Yogyakarta. Pembantu ketua tiga (PK III) sebagai bagian kemahasiswaan bersedia memfasilitasi masalah ini agar tak menyebar keluar kampus.

Adapun, pertemuan antara panitia SIKam, DEMA, Lembaga STPMD, dan LPM Teropong diadakan pada kamis 15 oktober 2009. Pertemuan yang digelar di ruang seminar STPMD itu menghadirkan perdebatan yang cukup sengit. Sehingga memakan waktu yang cukup lama, bahkan mengadakan lobby selama tiga kali.

Setelah tiga kali mengadakan lobby, pertemuan pendapatpun urung dihasilkan. Panitia SIKam tetap pada pendirian mereka, “kami merasa tidak bersalah, sebaliknya kalian yang minta maaf”, unghkap ketua panitia SIKam, Kristoporus Oki. LPM Teropongpun tidak mau menerima dengan tetap menuntut panitia SIKam.

Tak terasa, waktupun tak toleransi, saatnya sore tiba. Proses diskusi belum usai, maka inisiatif untuk menunda pada kesempatan berikutnyapun diungkapkan. Namun, ditengah memperbincangkan waktu pada hari berikutnya, Titus yang pada saat itu dalam posisi netral (karena merupakan anggota LPM Teropong yang didelegasikan sebagai TIM SC SIKam), meminta waktu untuk bicara dan kedua belah pihakpun mengijinkan.

Titus berbicara dalam posisi “Independen” (bukan netral). Ia menjelaskan ; Masalah pertama, dalam pers ada hak jawab, namun panitia SIKam tidak menggunakannya, yang kedua (setelah dijelaskan), ternyata yang dipahami tentang keberimbangan berita oleh panitia SIKam adalah “sebelahnya memberitakan yang negatif dan sebelahnya lagi yang positif”, itulah keberimbangan menurut mereka. Akhirnya, dari penjelasan ini, panitia SIKam menyadari kesalahannya dan meminta maaf secara terbuka kepada semua sivitas kampus, melaui lisan dan tulisan.

Titus Umbu Jr
Mahasiswa ilmu pemerintahan
STPMD"APMD" Yogyakarta

Apa penilaian anda tentang masalah diatas?
READ MORE - Pembredelan PERSMA di STPMD yogyakarta